Setia, Kreatif, Suka Berbagi

by Wiwih Natapermana

Tidak terasa 57 tahun sudah saya mengenal almarhum Pdt. TS Iskandar dan istri, almarhumah Ibu Louisa Sidharta serta 2 anak, Lily dan Davey, saat beliau yang saya panggil Boksu mulai melayani sebagai pendeta di GKI Kebonjati tahun 1965, dengan pelayanan GKI Kebonjati wilayah Bandung Utara, yang kemudian menjadi jemaat dewasa, yaitu: GKI Maulana Yusuf.

Bagi saya, Boksu  adalah pendeta yang setia, kreatif dan suka berbagi. Setia menjalin hubungan dengan teman-teman lama di jemaat yang pernah beliau layani, sehingga pertemanan bisa tetap berlanjut. Mengujungi teman-teman dilakukan beliau agar hubungan tetap terjalin baik, tidak saling melupakan dan tidak saling terlupakan. Kalau beliau berkunjung, ada saja yang dibawanya, pudding caramel, sup tomat dan lain sebagainya, hasil masaknya sendiri. Kami sungguh mengaguminya. Memang hobi masak ada pada beliau.

Beberapa kali pernah kami diundang untuk makan siang bersama, demikian pula di hari-hari ulang tahun beliau, kami hadir untuk bersama-sama mengucap syukur kepada Tuhan atas penyertaanNya dan kesempatan yang Tuhan anguerahkan untuk berkumpul dan bersama-sama menikmati acara makan bersama. Berbagai macam hidangan disediakan Boksu, hasil masak beliau. Luar biasa…. Yang berulang tahun selalu menyiapkan sendiri berbagai macam masakan untuk disantap bersama teman dan kerabat. Bersama Pdt. MAM Sasabone dan istri Ibu Hiang, pernah berkumpul di rumah kami untuk makan siang. Boksu datang membawa tim gurame “ala Sangkan Hurip” hasil masak beliau sendiri juga, kami bersama-sama menikmatinya.

Pada suatu hari pernah kami mengunjungi Boksu di rumah Jalan CIung. Kami mendapatkan beliau sedang sibuk bersama Ci Kiok (panggilan saya kepada istri Boksu), menyelesaikan sebuah kanselkleed (kain mimbar) yang dibuatnya untuk salah satu GKI di Bandung. Sungguh indah… kreatif banget.

Sempat Boksu turut dalam acara kebersamaan Komisi Lansia GKI Kebonjati, rekreasi ke Taman Safari. Kami bermalam di Pondok Remaja, Wisma PGI, di Ciloto, Puncak. Sekitar 30 orang turut dalam acara ini. Beliau senang bertemu dengan teman-teman yang lama tidak dijumpainya. Di tengah acara kebersamaan ini, beliau diminta kesediaannya untuk memimpin ibadah malam. Permohonan disambut dengan senang hati, sambil bertanya dengan senyum. “Masih percayakah kalian sama saya?”Ternyata beliau senang sekali mendapat tugas itu.

Sebelum adanya pandemi, beberapa kali Boksu mengikuti kebaktian hari Minggu di GKI Kebonjati jam 7.00. Satu kali pernah beliau datang bersama beberapa keponakan dari Malang yang sedang menginap di rumahnya. Kalau beliau akan beribadah di GKI Kebonjati, satu hari sebelumnya pasti beliau menleepon saya, memberitahu akan keikutsertaannya di kebaktian hari Minggu. Saya bertemu terakhir dengan Boksu  di HUT GKI Kebonjati yang ke-95, pada tanggal 24 Desember 2019, di mana pendeta-pendeta yang pernah melayani di GKI Kebonjati diundang dan mereka hadir.

Dengan semakin melemahnya tubuh karena usia yang semakin bertambah, ditambah dengan adanya pandemi dimana kita semua harus lebih banyak diam di rumah, maka lebih bertambah sulit juga kami saling bertemu. Namun kita bersyukur, masih ada alat komunikasi yang Tuhan sediakan untuk kita tetap bisa saling menyapa, yaitu melalui Whatsapp. Kesempatan ini dipakai oleh Boksu untuk menyapa teman-teman, yang biasanya sering beliau kunjungi. Melalui Whatsapp malah kami bisa lebih sering saling menyapa. Beberapa kali beliau membalas WA saya yang dikirim kepada beliau.

“Serasa Siauw Teng masih ada…”

Siauw Teng adalah panggilan beliau kepada almarhum suami saya, yang sudah lebih dulu pulang ke rumah Bapa pada tanggal 2 Januari 2018. Entah apa yang terlintas dalam pikiran dan perasaan beliau…

Pada tanggal 10 Januari 2022, WA terakhir saya terima dari Boksu, memberi tahu bahwa arloji beliau telah hilang. Dua hari kemudian, yaitu pada tanggal 12 Januari, saya mendapat kabar bahwa Boksu telah pulang ke rumah Bapa. Alangkah kagetnya saya mendengar berita itu. “Kemarin dulu masih mengirim WA tentang hilangnya arloji, sekarang sudah pulang ke rumah Bapa… Sakit apa beliau? Demikian saya bertanya-tanya…”

“Tugasmu sudah selesai, hambaKu yang setia.”

“Selamat jalan, Boksu, selamat tiba di rumah Bapa, sampai bertemu lagi.”

Demikian beberapa pengalaman saya bersama Boksu.

Untuk seluruh keluarga almarhum Boksu, salam sehat dan semangat, Tuhan memberkati.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai