Telur Puyuh Lumer

by Julia Mustangin

Dari dulu, sejak kami masih di Bandung, hubungan kami dengan Boksu sangat dekat, kami sering berkunjung ke rumah Boksu, di Jln Geusanulun, Jln Dago Pojok, terakhir di Jln Ciung.

Waktu Evita dan Ucup masih kecil ada hal yang sangat berkesan buat mereka, Boksu datang ke rumah kami sebagai Sinterklaas, ditemani 3 orang Piet Hitam.

Boksu selalu hadir di acara-acara penting keluarga kami, seperti hari ulang tahun anak-anak. Waktu Evita ulang tahun ke 6, Boksu yang membantu Evita memotong kue ulang tahunnya.

Boksu membantu Evita memotong kue ulang tahunnya yang ke 6

Pada tahun 1991 kami sekeluarga pindah ke America dan setelah kami merasa sudah tidak mungkin balik lagi ke indo, kami undang Boksu dan istri (ci Kiok) datang ke America, kebetulan mama saya dan papanya suami saya  ingin kesini. Rumah jadi ramai.

Kami ajak mereka jalan-jalan bareng ke Palm Spring, Solvang dan tempat2 lain.

Kadang kita cuma jalan di mall, tapi kalau di mall boksu suka slanang slonong sendiri tanpa memberi tau kita.

Kita sadar,  tiba-tiba boksu sudah tidak ada, kita cari-cari, eh taunya lagi asik melihat-lihat di tempat lain.

Boksu ga mau dituntun. Kalau kita mencoba menuntunnya, tangan kita ditepis🤣🤣, pdhl maksudnya supaya jangan nyelonong sendiri, takut hilang🤣

Tahun 2003, ci Kiok sudah tidak ada, boksu kami undang lagi untuk menghadiri weddingnya Evita.

Sayang waktu Ucup menikah( 2013) diajak kesini lagi,  boksu ga mau, katanya sudah ga kuat.

Sebelum pandemi, walaupun kami sudah menetap di America, setiap pulang  ke Bandung, kami pasti mampir untuk ketemu boksu.

Kadang kami ajak boksu makan di luar, tapi seringnya boksu yang masak, lalu mengundang kami untuk makan di rumahnya.

Boksu kalau masak banyaaak sekali macamnya, seperti ada pesta besar.

Satu meja penuh makanan hasil masakan beliau.  Kadang sampai bingung makannya.

Seringkali boksu juga mengirim makanan untuk kami.

Ada satu pengalaman lucu yg ga lupa sampai sekarang. Sustu hr Aan (supir boksu) menganter soup ayam dr boksu.  Di dalamnya ada telur puyuhnya.

Karena saya  ga suka telur puyuh, jadi telurnya sisa banyak, saya kasih ke suster yang jaga mama saya.

Waktu  mau dimakan, sama si suster soupnya dipanaskan dulu, eh telur puyuhnya lumer semua.

Si suster kebingungan : “Bu? kok telurnya meleleh ?”

Waktu saya lapor boksu, boksu ketawa, katanya “itu agar-agar yang dicetak bentuk telur” 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️

Haha.. ketipu…  beberapa hari kemudian,  boksu datang memberikan cetakan telur puyuh dan mengajarkan cara membuat telur puyuh dari agar-agar.

Masih banyak lagi kenangan indah dan lucu bersama boksu yang akan selalu kami ingat sekalipun boksu sudah tidak ada.

Boksu berkunjung sebagai Sinterklaas

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai