The Simple Yet Meaningful Touch

by Adrian Tirtadjaja

11 Januari 2022 : saya ada tugas kantor untuk meeting di Bandung. Terbersit niat ingin sekalian menengok Pdt Iskandar.

Lalu saya bicara sama tim saya yang ikut dalam mobil saya: “Eh, besok saya mau mampir  ke rumah teman saya. Kamu ikut aja ya .. sebentar”

Tetapi besoknya (12 Januari 2022) saya mengurungkan niat tersebut, karena saya pikir saya habis ketemu orang banyak, kuatir bawa virus yang membahayakan Pdt. Iskandar, maka akhirnya saya langsung balik ke Jakarta.

Saya tidak menyangka, ternyata itu adalah hari dimana Tuhan memanggil Pdt Iskandar, pulang ke rumah-Nya.

Sejenak saya menoleh ke belakang ……

Dalam hidup saya, ada 3 pendeta senior yang punya kesan mendalam.

Yang pertama, Pdt Suatami Sutedja yang selalu hadir dalam moment-moment penting hidup saya dan keluarga saya (sidi, pemberkatan nikah dll)

Yang kedua, Pdt. (Alm) Hosea Abdi W yang dekat karena pelayanan musik di GKI GI dan berlanjut terus sampai akhirnya beliau meninggal.

Yang ketiga adalah Pdt. (Alm) TS Iskandar.

3 pendeta ini punya ‘touch’ khusus di hati saya dan ada benang merahnya.

Hari ini secara khusus saya ingin mengenang seperti apa ‘touch’ Pdt TS Iskandar dan bagaimana dampaknya terhadap diri saya.

7 tahun yang lalu, saya diminta menjadi ketua panitia peringatan 50 tahun Pelayanan Pdt Suatami Sutedja. Dalam kepanitiaan tersebut, kita punya ide untuk memberikan perhatian khusus kepada pendeta-pendeta emiritus yang hadir dalam acara. Juga memberikan perhatian khusus dalam bentuk pemberian gift untuk para hamba Tuhan yang sudah melayani lebih dari 50 tahun.

Dan sebagai follow up nya, saya dan rombongan menemani Pdt Suatami mengunjungi pendeta-pendeta senior ‘teman lama pdt Suat’, dengan tujuan untuk mengantarkan gift dan juga buku terbaru, hasil karya Pdt Suatami.

Salah satu pendeta yang ada di dalam list kami adalah Pdt TS Iskandar,  teman bu Suat sewaktu sama-sama melayani di GKI Kebon Jati. Maka kamipun berangkat ke Bandung, untuk menemui beliau.

Sesampainya di rumah yang terletak di Jl. Ciumbuleuit, kami disambut oleh Pdt TS Iskandar sendiri, yang dari awal pertemuan diam seribu bahasa. Diajak ngomong, beliau diam saja, wajahnyapun tampak seperti tidak  bersemangat, sepertinya beliau sedang kurang sehat, sampai-sampai kami, terutama Pdt Suat merasa prihatin. Kemudian Pdt Iskandar mengambil bolpen dan di atas sehelai kertas yang ada di meja, beliau menulis, “maaf saya tidak bisa banyak bicara”.  Dalam hati saya berkata: “Oh, mungkin benar, beliau sedang kurang sehat … Kasihan ..”

Kuatir kedatangan kami mengganggu, kami  bercakap-cakap seperlunya, dimana yang aktif bicara hanya kami, dan selama pembicaraan, tidak satu patah katapun keluar dari mulut Pdt Iskandar. Untuk menutup pertemuan, Pdt Suat mengajak kami semua berdoa dan sesaat sebelum Pdt Suat mengucapkan kata Amin, tiba-tiba terdengar teriakan keras Pdt Iskandar : “AMIN !!!” Betapa kagetnya kami.

“Loh … tadi diam, kenapa sekarang tiba-tiba teriak kencang sekali ??” kembali saya membatin.

Belum hilang rasa kaget kami,  dengan santai Pdt Iskandar menjelaskan : “Saya ‘TAKUT BISU’ !!!”

Bagi yang belum tau … “Takut Bisu” adalah judul buku karya Pdt Suat.

Ha ha ha … Barulah kami sadar, ternyata orang ini guyon gila gilaan.. pura-pura bisu selama 1/2 jam hanya untuk ‘entertain’ kita semua.

Untuk menutup pertemuan kali itu, Pdt Iskandar mengajak kita santap siang dengan menu makanan Belanda, hasil masakan beliau sendiri … sup belanda, nasi goreng, salad huzarensla dan pudding strawberry segar … semuanya super lezat di lidah saya.

Setelah santap siang bersama, Pdt Iskandar membagikan kertas kepada kami (ternyata itu lembar nyanyian yang sudah disiapkannya), lalu mengajak kami bernyanyi dan berdoa bersama. Selain itu beliau minta kami mengisi buku tamu seraya berkata  “Saya sudah tua dan saya ketemu ribuan orang, mungkin saya ga bisa ingat nama satu per satu. Jadi tolong isi buku tamu ini berserta nomor HP sehingga saya ingat pernah bertemu”

Memenuhi permintaan beliau, saya isi buku tamu itu tanpa berpikir apapun. Saya tidak menyangka ternyata data seadanya yang saya tuliskan di buku tamunya, merupakan awal dari  Pdt Iskandar memberikan makna dalam hidup saya selanjutnya. Sejak hari itu, hampir setiap hari beliau mengontak saya melalui Whatsapp. Dan hebatnya bukan sekedar hanya mengirimkan pesan broadcast loh, tetapi menyapa dengan nama: “Good morning, Adrian. How are you ?”, “Good night Adrian, sweet dreams. Tuhan berkati !”, “Hello Adrian. Sudah lama ga bertemu yah. Adrian diberkati terus yah !”

Pdt Iskandar juga pernah menawarkan : “Kalo ke bandung, ga usah nginep di hotel. Nginep di ciumbeluit aja tetapi sederhana.” Selain itu beliau juga mengirimkan doa jika saya bilang saya ga enak badan.

Terus terang sebenarnya saya heran. Saya ini kan ketemu hanya sekejap saja dan tidak pernah punya hubungan lebih dari sekedar menemani Pdt Suatami mengantarkan buku. Usia kamipun terpaut jauh. Bayangkan, saat itu usia saya baru 35 tahun. sementara beliau 82 tahun. Tetapi kok bisa ya, seorang Pdt sepuh seperti beliau terus menerus dipakai oleh Tuhan untuk senantiasa menguatkan saya dalam keseharian hidup saya, tanpa terputus. Beliau punya ‘touch’ kehangatan yang khusus dan ekspresif. Sangat terasa oleh saya walaupun komunikasi kami hanya melalui whatsapp.

Natal pertama di era pandemi (2020) beliau mengirimkan pesan : “Adrian, saya sudah buat pudding khusus untuk Adrian. Tapi saya dilarang ke Jakarta oleh anak-anak karena takut covid. Sayang!!“ .. Tidak lama kemudian, saya mendapat pesan WA dari Pak David (anak Pdt Iskandar), yang menyatakan beliau baru dari Bandung dan ada titipan dari papinya untuk saya. Ketika titipan itu datang dan saya buka, ternyata isinya adalah pudding Natal yang sangat cantik. Duh niat banget deh. Menyentuh banget. Saya bisa bilang itu pudding tercantik dalam hidup saya.

Sentuhan-sentuhan sederhana yang diberikan Pdt Iskandar, ternyata menjadi inspirasi besar bagi saya, untuk ikut mulai memberikan sentuhan khusus dalam hidup orang lain.

Kebetulan saat itu, saya dipercaya menjadi ketua panitia Paskah dan Natal 2021 GKI Gading Indah, saya mengangkat thema dimana gereja mencoba menghadirkan dirinya melalui ‘Presence’ fisik.

Di era pandemi itu, dari depan pagar rumah-rumah jemaat, kami menyerahkan paket natal/paskah berupa perlengkapan kegiatan natal/paskah yang dapat mentrigger kegiatan interactive di keluarga masing2.

‘Presence fisik’ inilah yang saya bilang terinspirasi dari sentuhan kepedulian yang dilakukan Pdt Iskandar, bahkan selanjutnya dikembangkan lagi dengan pembentukan Tim Wilayah Peduli yang memberikan bantuan kesehatan (obat dan dokter) untuk warga sekitar yang terpapar Covid-19. Dengan segala keterbatasan yang ada (termasuk susahnya mendapatkan obat-obatan Covid-19), dan di tengah suasana mencekam, mereka tetap berani mengambil resiko, bergerak cepat, berusaha agar pertolongan keeehatan yang sesuai dapat segera diterima oleh mereka yang membutuhkan,  baik jemaat GKI Gading Indah ataupun bukan. Semua pasien dimonitor 24 jam setiap harinya oleh Tim ini melalui WA group dan dan juga memanfaatkan video call.

Believe it or not … ternyata kebaikan sederhana seperti yang dilakukan Pdt Iskandar itu dapat menular dan akhirnya dengan cepat menjadi sebuah wabah kebaikan. Kunci utamanya adalah KETULUSAN, karena yang tulus itulah yang dapat menyentuh hati manusia lain

So far, Tim Wilayah Peduli GKI Gading Indah sudah menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk memberi bantuan kepada lebih dari 100 lebih pasien dengan obat-obatan terbaik dan semua ini dicapai atas rasa saling berbagi dan saling peduli, tanpa menggunakan dana gereja sepeser pun.

Seperti Tuhan dapat memberi makan 5000 orang hanya dengan  5 roti dan 2 ikan, yakinlah Tuhan juga bisa memakai kebaikan-kebaikan kecil yang kita bagikan menjadi kebaikan-kebaikan besar bagi banyak orang lain.

Selamat Jalan Pdt TS Iskandar. Terimakasih untuk sentuhan yang telah memberikan makna dalam hidup saya.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai