Tiada Momen Penting dalam Keluarga Kami Tanpa Keterlibatannya

by Sally Sagala

Mendengar berita meninggalnya Oom Iskandar buat saya pribadi rasanya seperti kehilangan ayah ke-2 karena perkenalan dengan beliau sudah sejak saya SD sampai saat ini usia  saya menjelang 66 tahun.

Khususnya Oom adalah teman mamie, papie saya, paling lama yang saya kenal.

Satu demi satu kenangan masa lalu bersama Oom Iskandar bermunculan saling bertabrakan di benak saya.

Bagaimana saat dia menangkap basah saya dan Lili nyemplung di bak mandi

Bagaimana dia membantu menambah koleksi perangko saya.

Bagaimana nenek saya jadi Kristen lewat pelayanannya.

Bagaimana usahanya mengembalikan memory mamie yang hilang karena serangan stroke

… dan masih banyak lagi, karena memang semua momen penting dalam keluarga kami, selalu dibimbing Oom Iskandar.

Saya bisa katakan, beliau adalah  orang yang sangat berjasa dalam keluarga kami.

Merespon permintaan keluarga, saya akan mencoba menuliskan semua memory bersama Oom Iskandar, yang saya ingat.

Waktu Oom Iskandar menjadi pendeta pertama di GKI Dago, maka kami langsung jadi jemaat mula-mulanya. Papie saya langsung jadi majelis, karena sebelumnya papie adalah majelis di GKI Kebonjati.

Dari hari ke hari, hubungan keluarga kami dengan keluarga Oom Iskandar makin akrab. Bahkan ketika ganti nama, Oom Iskandarlah yang memberi nama Theophilus kepada papie. Karena marga Papie itu Thio. Nama asli Thio Keng Han ganti jadi Handi Theophilus.

Saya cuma 2 bersaudara : Robert kakak saya dan saya.

Saya suka main dgn Lili kecil, karena saya ingin punya adik.

Waktu saya menginap di rumah pertama Oom Iskandar di Setiabudi, saya mandi sore bareng Lili, dan dengan nakalnya, saya ajak Lili nyemplung di bak mandi. Main air berdua. Asik sekali. Mungkin Oom Iskandar curiga, kenapa kami tidak keluar-keluar dari kamar mandi. Akhirnya dia ngintip dari jendela belakang dan suruh kami cepat keluar 😄. Terpaksa Oom Iskandar bersihkan bak kamar mandi yang sudah kami pakai nyemplung…

Waktu Oom Iskandar kuliah di Australia, saya rajin berkirim surat dengannya. Oom Iskandar tahu saya pengumpul perangko,  jadi beliau selalu membalas surat saya dengan  macam-macam perangko.Makanya saya merasa beliau seperti ayah sendiri karena selalu mau membalas surat saya, dan membuat koleksi perangko saya bertambah semarak.

Saya sangat respek terhadap beliau, terutama karena ketegasan beliau yang   tidak segan menegur kalau kita salah.

Walaupun berteman dekat, beliau berani mengatakan : “itu salah/tidak benar”.

Waktu saya mau kuliah teologia di Batu-Malang, saya minta advice dari Oom Iskandar. Beliau sempat bilang karena tidak 1 denominasi, setelah tamat saya ga bisa melayani di GKI, tapi gapapa, saat itu panggilan-Nya bukan untuk GKI 😁

Waktu saya menikah dengan orang Batak, teman 1 kuliah di Batu-Malang,  Oom Iskandar juga yang memberkati.

Lalu kami merantau ke Sumatera Utara selama 20 tahun, tapi kalau saya ke Bandung atau orang tua saya ulang tahun, pasti Oom Iskandar yang diundang.

Walaupun sudah emeritus, ya tetap beliau yang datang.

Bahkan sekitar 4-5 tahun yang lalu, waktu jumpa di ulang tahun mamie saya, Oom Iskandar masih memberikan saya resep bolu kukus.

Perhatian beliau itu luar biasa pada orang-orang yang dikenalnya.

Bahkan keluarga mamie saya yang bukan jemaatnya pun dia kenal semua.

Termasuk nenek saya dari mamie yang waktu itu belum menjadi Kristen.

Oom Iskandar setia melayani nenek saya, hingga akhirnya nenek saya menjadi Kristen, dan dibaptis oleh beliau.

Waktu mamie saya kehilangan memory karena kena  stroke pada tahun 2020,  Oom Iskandar berkunjung, sambil terus bercerita tentang berbagai hal yang pernah mereka alami bersama, dengan harapan itu bisa menolong mengembalikan memory mamie.

Waktu Oom bercerita, saya kagum, beliau masih ingat semua nama-nama anggota keluarga mamie saya.

Sebelum pamit pulang, beliau  berpesan pada saya dan kakak saya agar lebih memperhatikan mamie dan bersiap-siap dengan kemungkinan terburuk. Oom Iskandar mengingatkan kami, kena stroke dan lumpuh sebelah di usia 86 tahun itu berat.

Saat  kakak saya meninggal mendadak serangan jantung di bulan Maret 2021 dan mamie menyusul meninggal di bulan Agustus 2021, beliaupun mengirimkan ucapan belasungkawa lewat WA seraya minta maaf, karena tidak bisa hadir secara fisik, dikarenakan pandemi masih berlangsung.

Ya, beliau masih suka WA  dan kadang-kadang salah kirim WA pada saya😁

Tahu-tahu dengar beliau berpulang.🥲

Selamat Jalan Oom …..

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai