by Elika Benaya
Panggilannya Om Tjan, dia adik bungsu papaku. Keponakan-keponakannya cukup akrab dari kecil sampai kami dewasa…
Ingatan Masa Muda
Dia tinggal di Kartini 20, rumah papaku, kamarnya di loteng.
Setelah lulus SMA negri,dia terpanggil untuk kuliah teologi, di STT Jakarta,Pengangsaan Timur.Tadinya sih bukan Kristen. Menurut kesaksian Om ku, dia jadi Kristen , karena melihat kehihidupan mamaku, engsonya..
Setelah lulus STT, dia di tempakan di Tjirebon sebagai pdt jemaat.
Saat itu papaku, yang bukan Kristen menyempatkan berangkat ke Tjirebon, untuk menghadiri moment yang bersejarah. Beliau diminta memberikan kata sambutan sebagai wakil keluarga.
Om-ku dan Aku
Karena pernah serumah, kami tentu saja akrab..

Om ku itu dianugrahi talenta seni yang luar biasa. Seni dekorasi , seni drama, saya pernah waktu kecil dilibatkan utk jadi figuran.. saya juga pernah diajari seni melukis dengan akrilik..
Namun diatas segalanya, Om ku punya jiwa konselor bagus sekali..
Aku sering berbincang-bincang dengannya bila aku menhadapi masalah, dan aku suka mendengarkan nasihat-nasihatnya..
Waktu aku kuliah di STT dan pacaran dgn kakak kelasku , mamiku tidak setuju dengan berbagai alasan. Aku terharu karena Om ku menyempatkan datang dari Bandung ke Jogya , khusus untuk mengkonselingku..
Aku merasakan itu sebagai bentuk perhatian Om-ku terhadap aku.
Aku bersyukur, Om Tjan yang kami berikan sebutan “si Paklik” sekarang sudah bahagia kekal dalam pelukan Kristus
Puji Tuhan, Soli Deo Gloria..

Tinggalkan komentar