Kupinjam Papimu

by : Novy M. Takarina

Perkenalan
Namaku Novy. 5 Oktober 1988, Tuhan Yesus melawatku dan ini titik balik kehidupanku.. Hampir dua minggu bergumul sendiri, sampai akhirnya aku bagikan pengalaman itu pada salah seorang teman Kristen di kosan kami. Dia pula yang kemudian meminjamkan Alkitab untuk kubaca dan pelajari sendiri.
Sebulan kemudian, setelah merasa yakin pada panggilan itu, aku meminta temanku untuk mengenalkanku pada pendeta, siapa pun itu, dan dia membawaku ke GKI Maulana Yusuf dan mengenalkanku pada Pdt. T.S. Iskandar.
Satu sore di pertengahan November 1988, lupa tanggal pastinya, kami bertemu di ruang tamu GKI Maulana Yusuf. Sikap pendeta yang satu ini dingin. Tantangan tersendiri bagiku.
“Apa hubungan kalian?” tanyanya pertama kali.
“Tidak ada hubungannya dengan iman saya, Pak.”
“Kamu yakin itu panggilan? Banyak orang datang mengaku-ngaku ketemu Tuhan, tapi ternyata dipakai untuk menipu.”
Jleb! Sempat panas darahku. Tapi sebagai anak muda, tentu saya harus
menjaga sopan santun dan tetap tersenyum.
“Waktu yang akan membuktikan, Pak.”
Itulah awal pertemuan kami. Hari-hari selanjutnya, kami kerap bertemu untuk
pastoral di Ruang Konsistori. Tapi karena saya sedang menyusun skripsi dan harus bolak-balik Bandung – Jakarta untuk penelitian, Pak Is, demikian aku memanggilnya, memintaku untuk menemui Pdt. Lidya Zakaria di GKI Panglima Polim. Jadi, jika selama dua minggu aku di Bandung, pastoral dilakukan bersama Pak Is, dua minggu berikutnya di Jakarta bersama Ibu Lidya.

Saat Badai Datang
April 1989 adalah puncak ketegangan dengan keluarga karena keputusanku mengikut Tuhan. Setelah usai sidang skripsi, keluarga (tinggal di Jakarta), memutuskan lewat seorang ulama yang tinggal tak jauh dari rumah Pak Is di Jalan Ciung, bahwa aku harus kehilangan hak waris dan hak perwalian. Hidupku benar-benar akan “sendiri” dan tanpa bekal materi sama sekali. Sebagai sarjana yang baru selesai sidang dan wisuda, tentu belum punya ijazah, karena skripsi harus direvisi dan diperbanyak yang tentu butuh biaya. Itu aku tak punya. Untuk makan pun benar-benar mengandalkan pemeliharaan Tuhan.

Ternyata, Pak Is selalu menyampaikan kisah dan pergumulanku di kelompok bidston. Dari sanalah banyak oom, tante, oma, dan opa mendoakanku meski belum pernah bertemu. Mereka menyayangiku dan ikut menangis bersamaku dalam doa. Lewat tangan Pak Is, amplop-amplop kasih dari mereka maupun Pak Is pribadi, kerap diselipkan paksa ke tanganku. Padahal aku termasuk orang yang sombong untuk meminta ataupun menerima bantuan. Mengapa? Karena aku perlu membuktikan bahwa Tuhan memeliharaku dan aku ikut Tuhan bukan karena siap-siapa ataupun karena mendapatkan bantuan seperti yang biasa dituduhkan oleh orang.
“Ini titipan dari orang, ga perlu kamu tahu siapa. Itu berkat dari Tuhan. Kamu tidak boleh menolak!” tegas Pak Is tiap kali aku berkelit kalau aku masih punya uang untuk makan walau sebetulnya tidak selalu benar.
Mulai April 1989 aku masuk kelas katekisasi Pak Is. Tentu dengan selalu membawa segudang pertanyaan.
“Kamu kalau nanya jangan yang susah-susah!” ujarnya di salah satu pertemuan.
Hahaha… Maaf ya, Pak. Saya memang terlalu haus Firman Tuhan. “Melahap” Alkitab 4-5 jam sehari untuk semakin mengenal Allah dan “mengejar” ketertinggalan saya dari teman-teman Kristen.
Sikap Pak Is yang tampak dingin ternyata berbanding terbalik dengan tindakan-tindakannya di belakangku. Dia selalu mencari cara untuk menolongku. Aku tahu Pak Is pasti sibuk mencarikan pekerjaan yang sesuai dengan Ilmu Jurnalistik yang kutekuni di bangku kuliah. Tapi, lewat Pak Is-lah, Pak Bastinus, salah seorang anggota Majelis Jemaat, mencarikan pekerjaan buatku. Aku perlu belajar menghidupi diri, tak masalah apa saja pekerjaannya, tegasku. Aku tidak mau menadahkan tangan mengharap belas kasihan orang ataupun berhutang. Akhirnya, aku terdampar di sebuah perusahaan dengan tugas menyortir kuitansi dan faktur juga mencuci piring makan siang 5 orang di kantor kami yang kebetulan cuma aku yang perempuan…
Masalah belum berakhir. Mengingat ijazah yang belum kumiliki, tidak punya pengalaman kerja, dan bidang pekerjaan yang “receh”, tentu gajiku hanya Rp 75.000. Beruntung di perusahaan kami berada di tempat terpisah dan ada katering untuk makan siang. Kalau ada sisanya, bisa kubawa pulang untuk makan malam. Tapi tempat tinggalnya bagaimana?
Cara Tuhan memang aneh. Saat aku mencari tempat kos di daerah DIpati Ukur, Tuhan membawaku ke rumah Tante Flora. Setelah obrolan teknis dan merasa cocok, tiba-tiba Tante Flora bertanya.
“Novy Kristen? Gereja di mana?”
“GKI Maulana Yusuf, Tante.”
Tante Flora kaget. “Maaf, apakah kamu Novy yang dari muslim yang suka diceritain Boksu ?” bisiknya. “Iya, Tante.”
“Wah, saya sering doakan kamu di bidston sama Boksu dan teman-teman!”

Itulah cara perkenalan kami yang unik. Doa mempertemukan kami, yang tidak pernah bertemu secara fisik.
Seperti biasa, Pak Is terus memantau. Karena tahu gaji saya kecil dan uang kos Rp 50.000 per bulan, tampaknya Pak Is juga yang membujuk Tante Flora untuk memberikan diskon khusus, tentu saja diam-diam supaya teman kosa lainnya tidak tahu.
Lewat Pak Bastinus juga, pasti atas permintaan Pak Is, GKI Maulana Yusuf mendesak memberikan bantuan dana untuk memperbaiki dan mencetak skripsi agar aku bisa segera menebus ijazah. Akhirnya kami sepakat. Aku meminjam dana gereja yang harus kucicil pengembaliannya dan bukan sebagai penerima dana bantuan.

Waktu berjalan. Sejak ikut katekisasi, aku mulai terlibat di pelayanan Sekolah Minggu, menjadi MC di Persekutuan Pemuda, hingga MC acara-acara berskala jemaat. Kupikir itu hal biasa dan tak seberapa dibanding kasih karunia keselamatan dan talenta yang Tuhan berikan dalam hidupku.

Terima Kasihku
Dia adalah papi yang dipinjamkan Lily dan Dave padaku. Dia sering kali seolah menjaga jarak. Tapi aku paham. Pak Is tidak mau aku bergantung padanya dan menjadikannya sandaran. Itu caranya mendidikku. Tetap memantau dari belakang, dan sesekali bertanya. Tapi aku tahu, aku punya satu sudut kecil di hatinya, juga dalam doa-doanya. Terima kasih sudah menjadi ayah rohaniku, Papi Iskandar. Terima kasih sudah meminjamiku papi yang lembut hati, Lily and Dave.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai