by Pdt Wee Williyanto
Ada banyak moment dalam perjumpaan dengan Pdt Iskandar yang memberi kesan yang mendalam. Betul, tulisan ini tentu terbatas untuk menggambarkan betapa baiknya, perhatiannya dan kasih sayangnya. Minimal, tulisan ini bisa mewakili dari pengalaman kedekatan saya dan keluarga dengan beliau (tulisan ini sempat terhenti untuk saya ketik, karena keterbatasanku pasca terpapar Covid-19)
AWAL MENGENAL
Ada kata pepatah, “Tak kenal, maka tak sayang”. Saya sepakat dengan pepatah itu. Sebab bagaimana kita bisa berkomentar tentang seseorang tanpa kita mengenalnya. Bagaimana kita bisa menyayangi orang itu jika tidak tahu siapa dia sebenarnya.
Saya memulai tugas di Gereja Kristen Indonesia Jalan Maulana Yusuf 20 Bandung (selanjutnya disingkat GKI-MY) pada tanggal 4 September 1994. Itulah awal saya diperkenalkan melalui banyak cerita beberapa rekan pendeta yang masih aktif (Pdt. Albertus Patty dan Pdt. Ujang Tanusaputra), dan 1 pendeta emeritus, yakni dalam diri Pdt. Em. Timotius Setiawan Iskandar, yang sering disingkat Pdt. Em. TS. Iskandar.
Menurut mereka, jemaat senior, bahwa pak Is, begitu panggilan akrab untuk beliau, orangnya tegas dan keras. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai menurutnya, beliau akan segera berkomentar. Saat itu, saya berfikir, saya harus berhati-hati bersikap jika bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau.
Namun, mereka juga berpendapat, bahwa pak Is itu seorang pendeta yang luar biasa. Beliau bisa mengenal satu-persatu anggota jemaatnya. Tidak ada seorang pun anggota jemaat yang tidak dikenalnya. Bahkan hampir semua jemaat dikunjunginya. Dan jemaat tahu, bahwa sekalipun pak Is itu keras dan tegas, beliau pun memiliki kelembutan hati dan penuh perhatian. Ah, yang semula membuatku was-was bila berjumpa dengannya, keterangan itu setidaknya melegakan hatiku.
Awal berjumpa dengannya adalah ketika beliau berulang tahun pada tanggal 15 November 1994. Saya diajak oleh Pdt. Ujang Tanusaputra untuk datang ke rumahnya di jln. Ciung, dan saya diperkenalkan kepadanya. Saya ingat betul, tanggapannya dingin, “Ya, saya sudah tahu.” Pikirku saat itu, “Wah, orangtua ini kok begitu kaku ya.” Sejak itu, saya sering bertanya kepada banyak orang tentang bagaimana saya harus bersikap bila bertemu dengan beliau. Sebab salah satu concernku adalah melayani anggota jemaat kelompok usia lanjut (Senior atau Usia Indah). Beliau pun perlu mendapatkan perhatian dari saya. Jika saya tidak mampu berkomunikasi secara baik dengannya, bagaimana saya bisa melayaninya. Itu fikirku, yang terkadang merasa serba salah juga sih.
Dari sekian banyak saran yang saya terima dari mereka yang sudah senior, saya terkesan satu hal : “Jika beliau keras kepadamu, terima saja. Pandang dia sebagai orangtua. Dan terus usahakan untuk menyapanya, dampingi beliau, duduk bersama dengannya bila bertemu.” Dan itulah yang sering saya lakukan.
SERING DIPROTES
Tidak mudah untuk mengenal siapa dan bagaimana Pak Is. Apalagi, mungkin saya adalah seorang calon pendeta yang selalu mendapat protes. Bahkan ketika saya sudah menjadi pendeta pun. Ada banyak pengalaman di mana beliau mengajukan protes terhadap saya. Beberapa hal berikut ini yang membuat saya menggumulinya dengan serius.
Pertama, tentang kotbah. Baik via direct message, bahkan langsung beliau ucapkan, katanya kotbahku itu terlalu bertele-tele, suaranya terlalu keras, terlalu panjang, yang membuatnya tidak betah duduk lama di ruang kebaktian, sekalipun ia berusaha untuk tetap bersabar di tempat duduk.
Setiap mendapat komentar seperti itu, saya sering berdalih dengan hati kesal. Tahukah oleh beliau. Dulu, saya bukanlah seorang yang bisa bicara, karena bicaraku gagap, tidak bisa berdiri di hadapan banyak orang, dan itulah yang membuat ku merasa minder, tidak percaya diri. Setelah berlatih bicara hampir 16 tahun, saya bersyukur doaku terjawab. Saya bisa berbicara lebih lancar, dan juga berkotbah. Saya bersyukur bisa melewati itu, tetapi beliau kok tidak bertanya soal itu ?
Namun dengan terus berdalih seperti itu, saya tidak bisa bertumbuh dan berkembang. Entah mulai kapan, saya akhirnya menyadari, bahwa sebetulnya beliau ingin agar saya benar-benar siap menjadi seorang pendeta, yang mampu berkata-kata dengan baik, lancar dan jelas. Dan betul, ketika kotbahku dirasa baik, sistematis dan dengan intonasi yang baik, beliau memujiku secara langsung. Saya menjadi lega. Dan saya mulai menyadari satu hal tentang beliau. Protes itu adalah caranya untuk mendorongku memperbaiki diri. Dan sejak beliau memuji kotbahku itu, dia sangat jarang mengajukan protes. Beliau hanya berkeluh-kesah, bahwa dia sudah merasa makin tua, tidak bisa duduk lama untuk beribadah, sekalipun beliau sangat ingin beribadah, terutama di Bahureksa.
Kedua, tentang anak-anakku. Dia menegurku begini, “Kasih tahu anak-anakmu, agar menyapa orangtua bila lewat di depan mereka.” Saya sudah tahu wataknya dengan baik. Saya tidak marah atas komentarnya. Malah terkadang merasa geli sendiri bila beliau berkomentar. Dari banyak pengalaman berinteraksi dengan beliau, saya segera tahu apa harapannya. Mungkin, seperti beliau mendidik anak-anaknya, dia pun ingin agar saya mendidik anak-anak dengan baik. Predikat anak-anak pendeta itu terkadang tidak membuat nyaman. Namanya juga anak pendeta, maka harus terlihat baik, sopan, harus berbeda dengan anak-anak yang lain. Saya dan istriku melihat harapannya tidak berlebihan. Dan kami mendidik dan mengasihi anak-anak dengan baik, memperkenalkan mereka dengan banyak kegiatan gereja, agar bisa bersosialisi dengan mengenal banyak orang. Dengan begitu, anak-anak akan belajar membentuk dirinya dengan baik, menempatkan diri di antara banyak orang yang memiliki sifat berbeda, dan melayani dengan sepenuh hati.
PRIBADI YANG PENUH PERHATIAN
Boleh dikata, saya sangat bersyukur bisa mendapat respon dari beliau untuk setiap tindak tandukku. Saya menjadi semakin mengenalnya. Beliau adalah orang yang apa adanya. Bila suka, dia akan merespon. Jika tidak, dia juga akan merespon dengan protesnya.
Tanpa sadar, kami menjadi “dekat”. Sikapnya sangat berubah terhadap kami. Tidak terhitung beliau menelpon atau mengirim pesan. Itulah caranya berkomunikasi dengan kami. Sekalipun beliau sering salah mengirim pesan, ditujukan padaku, tetapi mengirimnya ke nomer hp istriku. Saya anggap itu hal yang wajar. Toh pesannya tetap kami terima dan kemudian kami berkomunikasi.
Setelah menjadi “dekat” dengan beliau, satu hal kesan kami yang begitu mendalam tentang beliau adalah beliau itu seorang pribadi yang begitu perhatian. Bayangkan, jika setiap anggota jemaat dilawat dan didoakannya, bukankah itu tanda perhatian dan kasih sayang dari seorang TS. Iskandar. Dia melakukan itu bukan hanya karena beliau seorang pendeta, tetapi itulah isi hatinya. Dia melakukan ini itu karena hatinya penuh kasih dan perhatian.
Dari sekian banyak pengalaman yang kami dapatkan, mungkin beberapa hal berikut ini bisa mewakilinya.
Pertama, hampir di setiap ulang tahunnya, saya diundang langsung oleh beliau. Malah, saya sering disodorkan piring di saat makan bersama, diantar ke meja makan dan ditunjukkan masakan kesukaanku. Sikap beliau sampai memunculkan komentar beberapa orang. “Tuh lihat, spesial banged kalau anaknya mau makan.” Saya tersipu, sekaligus terharu.
Hanya, saya seringkali berfikir, beliau tentu akan semakin sepuh. Dan perubahan itu saya lihat ketika saya memimpin kebaktian pelepasan ibu Luisa Iskandar, yang disemayamkan di GKI-MY. Dalam kesedihan dan kehilangnya, beliau masih berusaha menyalami setiap orang yang ingin menyatakan empati kepada beliau. Ada banyak pertanyaan dalam hati : bagaimana keadaan beliau setelah ibu tidak lagi berada bersamanya? Harapan saya, semoga beliau tetap sehat dan bisa tetap beraktifitas di usianya yang makin sepuh.
Kedua, mungkin saya termasuk dari beberapa orang yang sering mendapatkan masakan spesial buatannya. Malah, saya juga bersyukur, ternyata beliau juga suka masakan buatanku, terutama kepiting saos tirem. Malah beliau tidak sungkan-sungkan bila ingin dimasakkan. Hanya kadang saya suka berfikir juga. Masakan itu banyak mengandung kolesterol. Berdosa ngak ya, kalau kukirim itu ? Beliau hanya bilang, “Tenang, saya minum obat kok. Kan makan masakanmu itu tidak sering.” Ah, hatiku sedikit lega mendengar jawaban itu.
Ketiga, satu-satunya pendeta yang menyempatkan diri berkunjung dan berdoa saat saya menderita sakit selama hampir 8 tahun (Akhir 2007 – awal 2016), adalah beliau. Sambil membawa masakan, beliau datang ke tempatku. Beliau bertanya perkembangan penanganan penyakitku. Lalu sebelum berpamitan, beliau mengajak kami berdoa. Sungguh, hatiku sangat tersentuh oleh perhatian beliau.
Ya, ketika orang berfikir saya berpura-pura sakit, pak Is justru memperlihatkan empatinya. Wajahnya penuh kekuatiran. Dia hanya memberi nasihat, “Yang sabar ya.” Dan saya terus berjuang untuk sembuh. Tidak perlu orang lain tahu seperti apa penderitaan yang saya alami, yang penting bagiku adalah tetap berusaha untuk sembuh dan sekuat mungkin untuk bisa melayani. Perhatian pak Is benar-benar telah “mengobati lukaku” yang menganga di dalam hatiku. Perhatiannya adalah bukti betapa hatinya penuh kasih sayang. Dan kehadirannya ibarat oase yang memberi kesejukan dan kehangatan.
PANDEMI YANG MEMBINGUNGKAN
Mereka yang paling terdampak karena pandemi covid yang melanda sejak Maret 2020 adalah kaum lansia, atau mereka yang sudah sepuh. Mereka seakan “terkunci” di rumah, karena harus di rumah. Sebab di usia sepuh, mereka mudah terpapar. Keadaan itu menimbulkan keadaan yang serba salah. Di rumah saja membuat kaum sepuh menderita. Apalagi bila berada di luar rumah. Keluarga yang memiliki orangtua yang sudah sepuh tentu mengahdapi situasi yang dilematis.
Saya lupa kapan itu terjadi, seingatku pandemi belum lama berlangsung. Pak Is bertanya, apakah kami bisa memanggilkan montir untuk memperbaiki mobilnya yang mogok. Tidak banyak bertanya, kami segera mengirim seorang montir ke rumahnya, di jalan Ciumbeluit. Akan tetapi, ketika montir sampai di sana, sang sopir, lupa siapa namanya, langsung menahan montir itu, sambil berkata, “Nanti kalau ditanya apa kerusakannya, bilang saja rusaknya parah. Butuh ada yang diganti dan onderdilnya sulit didapat. Butuh indent cukup lama.” (Rupanya anak-anak Pak Is yang meminta sang supir mengatakan bahwa mobil rusak, sehingga tidak bisa digunakan, hal mana dilakukan sebagai upaya agak pak Is tidak keluar rumah di masa pandemi tsb)
Mendengar itu, kontan saja sang montir bertanya kepada kami harus bersikap bagaimana. Jika mengikuti kata-kata sang sopir, berarti itu berbohong, dosa. Jika ngomong apa adanya, bahwa mobil itu sama sekali masih baik, tidak ada yang rusak, apalagi mobil itu tergolong masih baru, maka drama akan terbuka. Serba salah. Lalu bagaimana ini ? Setelah berkomunikasi dengan kami, maka diputuskan untuk melanjutkan drama itu. Pak Is bisa menerima penjelasan montir saat itu, tentu dalam hatinya berharap onderdil yang dipesan bisa segera diperoleh dan beliau bisa bepergian untuk menghilangkan kepenatan.
Waktu terus berjalan. Pak Is menelpon kami lagi, menanyakan kapan onderdil itu datang. Duh, kami harus menjawab apa di waktu yang begitu sempit itu. Kebetulan, pandemi saat itu begitu menguatirkan. Banyak korban berjatuhan. Dan perpindahan orang dari satu kota ke kota lain sangat dibatasi, mirip lockdown. Lalu kami menjawab, “Semua barang tidak bisa dikirim karena lockdown. Yang sabar ya pak.” Duh, kami sadar kami salah, kami telah membohonginya, tapi demi kebaikan beliau. Kami hanya berdoa agar pandemi ini cepat berlalu dan beliau bisa bepergian lagi seperti yang baisa beliau lakukan.
INSPIRASI
Banyak pengalaman perjumpaan kami dengan beliau. Banyak hal juga yang bisa kami anggap sebagai inspirasi. Ya, kehadiran beliau telah menjadi bagian dari sejarah penjalanan hidup saya dan keluarga. Tidak ada kata-kata yang cukup mewakili rasa terima kasih kami. Kami hanya bsia bersyukur bisa berjumpa dan mengenal beliau dengan baik.
Ada 2 hal yang kemudian saya teruskan perjuangannya dalam pelayanan gereja. Pertama, di masa beliau masih aktif, ada buku liturgi yang beliau buat, termasuk panduan pelayanan untuk para penatua yang akan melayani kebaktian. Hal ini menginspirasi saya untuk membuat buku yang mirip dengan itu, tentu melengkapinya dengan banyak keterangan sesuai kekinian (ayat-ayat Alkitab dan contoh doa-doa). Dan buku itu sangat berguna bagi para penatua dalam menjalankan tugasnya, terutama dalam melayani kebaktian.
Kedua, perhatiannya kepada anggota jemaat, terutama dalam hal kedukaan, itu juga yang menginspirasi saya untuk membentuk tim kedukaan, agar melalui tim, gereja segera hadir saat kedukaan terjadi. Itulah cara gereja menjaga, merawat dan memelihara para domba Allah, yang telah dipercayakan kepada gereja.
Demikian tulisan saya tentang perjumpaan saya dengan beliau. Semoga ini bisa berguna, terutama kita bisa belajar menjadi orang penuh perhatian terhadap sekitar kita, tanpa kecuali. Terutama, berhati tuluslah saat kita melakukan segala perkara, termasuk berinteraksi dengan siapapun. Sebab itulah yang mencerminkan siapa kita sebenarnya.
Tinggalkan komentar