Pak Iskandar, Mentorku!

by Albertus Patty

Salah seorang anak saya pernah ajukan pertanyaan menarik. “Bila ada orang, di luar anggota keluarga, yang patut mendapat ucapan terima kasih atas pencapaian papa sekarang, siapa orangnya?” Saya menyebut nama pak Iskandar. Ini jawaban tulus. Nah, dalam tulisan singkat ini saya ingin tunjukkan beberapa alasan mengapa saya menganggap pak Iskandar berperan besar dalam kehidupan saya. Tulisan ini juga merupakan ungkapan rasa hormat dan kagum saya terhadap Pdt TS. Iskandar, rekan sekerja saya di GKI Maulana Yusuf.

Mental Memberi!

Bagi saya, Pak Iskandar, Saya panggilnya pak Is, adalahpribadi yang menarik. Saya kagum karena beliau adalah Pendeta yang cerdas. Kapasitas keilmuannya di atas rata-rata. Beliau juga seniman yang perfeksionis. Dia selalu bisa memberikan ide yang bagus dan menarik agar gereja nampak lebih indah dan estetik. Kadang beliau sendiri terjun langsung mengatur ruangan dan dekorasi gereja. Luar biasa! Beliau pendeta yang selalu rapi berpakaian. Selain pintar memasak segala jenis makanan, pak Is menguasai soal liturgi dan peribadahan. Asal tahu, beliau mengarang buku tentang liturgi yang memudahkan seorang pendeta atau calon pendeta memimpin ibadah.

Pak Is pendeta yang hebat. Di bawah asuhannya, jemaat GKI Maulana Yusuf sangat maju dan berkembang, baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Saat saya masuk di GKI Maulana Yusuf, jemaat ini sudah sangat dikenal sebagai jemaatnya kaum intelektual. Banyak mahasiswa dan dosen dari berbagai perguruan tinggi ternama di kota Bandung beribadah di GKI Maulana Yusuf. Kaum muda menjadikan beliau tokoh idola. Bahkan beberapa pemuda mengambil keputusan mengikuti jejaknya menjadi Pendeta. Di lihat dari sudut mana pun pelayanan beliau cukup sukses dan berhasil. Jadi, saya dan teman-teman pendeta lain di GKI Maulana Yusuf hanya melanjutkan apa yang sudah dibangunnya.

Saya belajar dan mengalami sendiri betapa Pak Is adalah pendeta yang membaktikan diri secara total kepada Tuhan. Salah satu hal yang saya belajar dan kagum dari beliau adalah ini : Pak Is memiliki mentalitas memberi. Perhatian beliau kepada anggota jemaat sering diekspresikan dengan mengirimkan makanan hasil olahannya sendiri. Saya pun beberapa kali kecipratan berkatnya itu. Makanan buatannya selalu enak dan nikmat. Selain kepada anggota jemaat, perhatian pak Is kepada gereja, terutama dalam soal dana sangat luar biasa. Saat jemaat GKI Maulana Yusufmembutuhkan dana, Pak Is rajin mencari dana kemana pun. Ini sih wajar! Apa yang luar biasa? Ada yang lebih hebat lagi yaitu pada saat gereja masih kekurangan dana, pak Is sering memberikan uangnya sendiri untuk gereja. Jumlah persembahannya sering cukup besar untuk ukuran seorang pendeta. Ini membuat saya sangat kagum. Sikap pak Is mengajarkan saya bahwa untuk dan demi kemuliaan Tuhan, kita tidak perlu takut kekurangan. Uang hanya titipanNya, yang harus kita salurkan. Saya belajar bahwa pak Is adalah seorang yang sangat bersandar kepada Tuhan. Pelajaran berharga ini yang membuat saya tidak sungkan untuk mengatakan bahwa pak Is adalah mentor spiritualitas saya.

Relasi Tegang

Saat baru lulus Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, Sinode GKI memutuskan untuk menempatkan saya dalam pelayanan di jemaat GKI Maulana Yusuf. Saya sempat meniadi rekan kerja pak Is selama beberapa tahun sampai beliau memasuki usia pensiun. Saat bekerjasama, relasi kami seperti naik-turun, kadang tenang, kadang sedikit ‘tegang.’ Ya agak tegang meski, menurut saya, itu wajar saja. Maklumlah kami dari dua generasi yang sangat jauh berbeda. Perbedaan usia saya dan pak Is 25 tahunan. Saya seusia dengan anak-anaknya. Jadi, penyebab ketegangannya hanya soal remeh dan lucu. Bukan soal prinsipil. Misalnya, gaya kami berdua sangat kontras. Tidak seperti pak Is yang selalu berpakaian rapi, penampilan saya sangat urakan. Sebagai calon pendeta berusia muda yangsadar sedang melayani kaum muda, saya merasa lebih akan ‘berbaur’ bila saya mengenakan pakaian dengan gaya anak muda. Jadi, saya lebih sering mengenakan kaos dibalut jacket dan celana jeans. Pak Is sering menegur saya dengan penampilan urakan itu. Sempat teguran beliau saya ‘cuekin’. Saya merasa punya alasan kuat. Tetapi lama kelamaan saya sadar bahwa beliau benar. Saya pun mulai menerima masukan beliau. Kini, saya mulai agak rapi sedikit. Meski, tentu saja,belum serapi beliau.

Perbedaan lain? Pak Is itu perfeksionis. Semuanya harus bagus dan mengikuti aturan baku. Memang, beliau seorang ‘detailer’. Hal detail yang sangat kecil diperhatikan demi kesempurnaan. Saya, sebaliknya, tidak suka pada aspek detail. Saya jauh lebih pragmatis. Bagi saya sepanjang jemaatnya senang ‘terabas’ saja. Pak Is juga sangat serius menggumuli pesoalan internal jemaat, terutama soal liturgi dan yang berhubungan dengan ibadah. Sebaliknya, pengetahuan saya tentang itu minim. Jadi, saya ingat, beberapa kali tata ibadah yang saya buat beliau rombak abis. Dari sudut teori, tata ibadah buatan saya memang kacau balau. Gara-gara itu, saya ‘terpaksa’ baca buku-buku tentang tata ibadah. Paling tidak sekarang jadi tahu sedikitlah.

Apakah ‘ketegangan’ relasi di antara kami membuat jemaat pecah? O…sama sekali tidak! Anggota jemaat kami OK saja. Tetap kuat dan kokoh. Tidak seperti di banyak gereja, di GKI Maulana Yusuf tidak ada pengelompokkan apalagi pengelompotan. Kami solid! Mengapa? Karena Pak Is selalu menempatkan ‘ketegangan’ kami sebatas perbedaan personal. Tidak melebar kemana-mana. Jemaat atau anggota majelis tidak terpecah-belah. Memang, kami tidak pernah konflik atau ribut terbuka. Kami berbeda, tetapi tidak pernah saling mengumpat atau saling menjelekkan satu sama lain. Dalam soal ini, satu hal yang saya paling salut pada sikap pak Is adalah ini. Pak Is tidak mau menggunakan ‘powernya’ untuk menendang saya dari jemaat ini. Padahal bila mau, beliau sebagai orang yang sangat berpengaruh pasti bisa melakukannya dengan mudah. Itulah pak Is, seorang pendeta berhati bijak. Sikap seperti pak Is itulah yang saya terapkan.Sekarang saat saya menjadi pendeta paling senior di jemaat GKI Maulana Yusuf, perbedaan pendapat di antara kami selalu bisa di ‘manage’ sehingga tidak mengorbankan kesatuan jemaat. Terima kasih pak Is.

Fokus di Luar

Seperti saya katakan di atas, pak Is sangat menguasai persoalan internal, soal liturgi atau tata ibadah, soal desain gereja, dan sebagainya. Penguasaan beliau pada bidang liturgi sangat diakui sehingga beberapa kali mahasiswa teologi dari luar kota datang untuk meminta pendapat beliau tentang liturgi. Dalam kondisi seperti itu saya tahu bahwa kapasitas saya untuk soal yang satu ini pasti kalah jauh. Mulanya soal ini sangat mengganggu. Bikin minder. Tetapi gara-gara inilah saya putuskan untuk mendalami bidang yang tidak dikuasai pak Is. Dari situlah, saya mulai menekuni bidang sosial kemasyarakatan, terutama dalam upaya mempererat hubungan antar agama. Apalagi, soal ini sangat penting bukan saja bagi masyarakat kota Bandung, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Pilihan saya ini suatu blessing in disguise. Efek dari pilihan ini sangat positif. Saya dan pak Is justru bisa saling mengisi dan melengkapi. Jadi, saya harus berterima kasih karena keberadaan pak Is membuat saya ‘terjebak’ untuk menekuni isu sosial-kemasyarakatan. Dan yang terpenting, kerjasama kami berdua membuat jemaat GKI Maulana Yusuf bisa memiliki aktifitas yang inovatif dan sangat beragam. Akibatnya, jemaat ini bertumbuh dan berkembang sangat pesat. Puji Tuhan!

Doa Pak Is

Saat saya putuskan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, pak Is, yang saat itu sudah emeritus, sangat mendukung. Saya ingat, saat acara perpisahan, beliau menyempatkan diri secara khusus datang untuk mendoakan keselamatan dan keberhasilan saya. Dan, seperti biasa, pak Is memberikan uang ‘jajan’ yang jumlahnya cukup besar untuk ukuran seorang emeritus. Saya sangat terharu dan kagum. Itulah pak Is, pendeta dengan mentalitas memberi. Jujur saja, mentalitas memberi ini saya internalisasikan dalam hidup saya. Inspirasinya adalah pak Is!

Penutup

​Pak Iskandar telah pergi kembali ke rumah Bapa di Sorgayang sangat dicintainya. Beliau telah menorehkan pelayanan dan pengabdian yang luar biasa bagi jemaat dan bagi kemuliaanNya. Benih-benih kebaikan dan kebajikan yang beliau tabur selama hidupnya sudah bertumbuh dan berbuah dimana-mana, termasuk di dalam diri anak-anaknya, Lily dan Dave bersama keluarga mereka. Saya dan banyak anggota jemaat serta simpatisan pun merasakan benih-benih kebaikan dan kebajikan dari buah pelayanan pak Is. Oleh karena itu, saya bersyukur karena dunia ini pernah merasakan kehadiran dan kebaikan pak Is. Pak Is sudah pergi, tetapi benih-benih yang beliau tebar dan yang telah bertumbuh dan berbuah akan terus melanjutkan pekerjaan dan pelayanan beliau demi kebaikan sesama dan demi kemuliaan namaNya. 

Bogor

6 Mei 2022

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai