Pendeta Serba Bisa

by Pdt. U. Tanusaputra

Selama 15 tahun (1991-2006) melayani di GKI Maulana Yusuf, saya mengenal Boksu Tjioe sebagai pendeta serba bisa. Ia memiliki minat di bidang liturgi. Kebaktian Peneguhan dan Pemberkatan Nikah yang dilayaninya selalu terlihat semarak dengan bunga dan lilin yang menyala. Prosesi dan gerak dibuat sedemikian rupa hingga menyimbolkan sebuah makna. Sampai GKI membentuk Komisi Liturgi dan menerapkan hasilnya dalam kebaktian, buku liturgi yang disusun Boksu Tjioe menjadi acuan banyak gereja.


Selain liturgi, Boksu Tjioe juga peduli pada kehidupan orang tua. Setelah melihat pelayanan kepada lanjut usia di Belanda, ia terinspirasi untuk membuat tempat serupa di Indonesia. Kepada siapa saja, ia bicara tentang perlunya fasilitas agar para senior bisa menjalani hidup secara lebih bermartabat. Sejatinya, gagasan itu berlawanan dengan anggapan masyarakat: bahwa anak yang menitipkan orang tua di Yayasan Manula adalah anak yang tidak hormat. Tentu saja, mengubah pandangan itu adalah pekerjaan yang berat. Tapi dengan semangat, Boksu Tjioe tetap mengajak jemaat untuk terlibat menjadi pengurus, sebagai panitia pembangunan, atau menyalurkan berkat. Akhirnya, Yayasan Kristen Manula “Dorkas” pun berdiri di desa Tanimulya, Kabupaten Bandung Barat.


Pada 1992 saya terlibat sebagai salahsatu penyunting buku berjulul “Timotheon”. Suatu bunga rampai yang diterbitkan dalam rangka emiritasi sekaligus memperingati ulang tahun ke-60 Pendeta T. S. Iskandar. Buku tersebut berisi sejumlah karangan dari orang-orang terdekat beliau baik yang tinggal di Indonesia maupun di luar negeri. Mereka adalah dosen, pendeta, atau anggota jemaat yang punya kapasitas dalam bidang tulisnya.
Selain menyampaikan wejangan untuk memasuki kehidupan baru sebagai pendeta emiritus, para penulis umumnya menyampaikan satu gagasan tentang hidup bergereja. Jika diteliti secara saksama, intisari tulisan-tulisan itu mengerucut pada gagasan tentang dinamika kehidupan gereja. Bagaimanapun gereja harus bertumbuh dan terbangun, dan semuanya semata bagi kemuliaan nama Tuhan.
Boksu Tjioe menentukan para penulis batas waktu tulisan harus masuk, menetapkan deadline penyunting selesai mengedit, kapan naskah harus masuk percetakan, dan urusan teknis lain, dengan sangat ketat. Namun dibalik semua itu, dari tema yang dipilih dalam penyusunan buku “Timotheon”, sekilas saya menangkap harapannya terhadap gereja dan masa depan gereja yang ia layani. Terlebih bila kata Yunani Timotheon dilafalkan dalam bahasa Indonesia menjadi Timotius. Sebuah nama-diri yang dipakai oleh Boksu Tjioe sendiri.


Sebelum Boksu Tjioe emiritus, beberapa kali ia menyatakan keprihatinan terhadap fenomena yang terjadi pada gereja di Eropa. Kebaktian hanya diminati oleh gernerasi sepuh, dan kaum muda sibuk bekerja atau asyik dengan dunia mereka sendiri. Beberapa gedung gereja pun dialihfungsikan menjadi bangunan komersial, bahkan ada yang dijual. Menurut beliau, gereja patut waspada, karena cepat atau lambat, trend itu akan menyebar ke berbagai belahan dunia.
Kekuatiran Boksu Tjioe di atas masih relevan hingga kini. Dinamika peradaban dunia memaksa perubahan orientasi dan gaya hidup manusia. Pola kerja, pelayanan dan semua sendi kehidupan ikut terkena imbasnya. Terlebih sejak pandemi yang hampir tiga tahun kita alami. Memang kebaktian tak berhenti karena dibantu teknologi, tapi ketika gereja mulai membuka pintu lagi jemaatnya malah sepi, karena terbiasa beribadah di rumah sendiri.
Supaya kekuatiran di atas tak terjadi, sejak dini gereja patut mengantisipasi. Uraian sabda Tuhan yang bernas harus mendarat di hati umat. Kebaktian online atau onsite, wajib disiapkan dengan saksama dan disajikan dengan istimewa. Dengan pertolongan Roh Kudus, niscaya umat rindu berbakti di gedung gereja lagi; selanjutnya semangat mereka untuk bersaksi dan melayani pun terbangun kembali.

SELAIN perannya sebagai pendeta, dan pandangannya tentang gereja, saya juga mengenal sosok Boksu Tjioe sebagai seniman serba bisa. Ia punya bakat dalam seni panggung. Beberapa naskah drama dipentaskan untuk menyemarakan suasana pada hari raya gerejawi, diantaranya menyadur drama: “Kereta Api Hantu”, dan menulis naskah “Almarhum Tercinta” yang pada 2017 dimainkan kembali saat peringat HUT ke-50 GKI Maulana Yusuf. Dalam seni panggung, Boksu Tjoe bukan hanya menyadur atau menulis naskah, beliau juga pandai merancang kostum sekaligus membuat property yang sangat mirip dengan benda aslinya.


Saat membangun GKI Maulana Yusuf, Boksu Tjioe berkolaborasi dengan arsitek dan panitia. Banyak ornamen teraplikasi pada gedung gereja secara detail. Mulai dari simbol Juruselamat (IHS) di atas salib, lukisan Penabur Benih dan Penjala Ikan di kanan-kiri mimbar, hingga handel pintu berbentuk ikan (Ichtus). Patut diakui, gedung yang diresmikan 1988 itu punya daya pikat hebat. Jika kita perhatikan medsos saat ini, bertebaran foto anggota jemaat atau simpatisan berlatarbelakang mimbar gereja yang indah dan artistik.
Banyak ikon dipadukan dalam kebaktian dan pelayanan firman. Mulai dari kain taplak mimbar sesuai tahun liturgis, sampai pada cover liturgi kebaktian. Kemampuan melukisnya mendukung mengeksplisitkan gagasan teologis tentang gereja dan kehidupan bergereja. Bahkan, pasca emiritus pun kemampuan melukisnya diterapkan dengan menggambar kain untuk dijadikan baju yang sangat otentik.

Pada Natal, Ulang Tahun, atau moment penting lainnya, keluarga Boksu Tjioe kerap menyelenggarakan open house di pastorinya. Jika tak bertugas memimpin acara gereja, saya dan isteri berupaya menghadirinya. Semua hadirin memuji enaknya sajian Boksu berupa hidangan ala Eropa. Saya dan isteri pun sepakat bahwa citarasa masakan Boksu Tjioe setara dengan jurumasak hotel bintang lima.
*
PADA 2022 Sang Empunya Kehidupan memanggil pulang hamba-Nya yang setiawan pada usia 90 tahun. Boksu Tjioe telah menyelesaikan pertandingan iman dan sampai di garis akhir. Saat Kebaktian Pelepasan di GKI Maulana Yusuf, Pdt. Renza meminta saya memanjatkan Doa Syafaat. Ini adalah kebaktian yang diadakan sebelum jenazah dihantar menuju krematorium.
Kebaktian itu dihadiri kerabat, sahabat dan anggota jemaat untuk mengiringi perpisahan dengan figur yang mereka kasihi, sekaligus menyatakan empati bagi keluarga yang bersedih hati. Dalam suasana yang begitu haru, banyak pokok doa yang dipandang perlu. Dengan keyakinan bahwa Tuhan Mahatahu, saya pilih 5 point yang paling dibutuhkan saat itu.
Inilah kelima hal yang saya ucapkan sebagai Doa Syafaat.

Pertama, tentu saja memohon untuk kelancaran proses kremasi. Agar lalu-lintas tak terhambat, cuaca cerah serta bersahabat, kelanjutan kebaktian di krematorium berjalan khidmat, dan semua orang bisa pulang dengan tubuh yang sehat.

Kedua, Injil Tuhan mengatakan: setiap orang yang percaya kepada Yesus, tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup selamanya. Kabar gembira itu berlaku bagi semua orang percaya yang meninggal dunia. Berdasarkan keyakinan iman itu, saya membayangkan Boksu Tjioe berjumpa lagi dengan Ibu Louisa dan menjalani hidup kekal Rumah Bapa. Itulah yang saya sampaikan sebagai pokok syafaat kedua.


Ketiga, saya berdoa untuk anak-anak, para menantu, semua cucu; sanak-saudara, dan anggota keluarga besar lainnya. Meminta pada Tuhan agar pasca ditinggal oleh almarhum, mereka mampu mengolah rasa duka yang ada. Juga mengandalkan tolongan Tuhan agar bisa melanjutkan hidup seperti sediakala.


Keempat, tak lupa saya berdoa bagi anggota jemaat yang ikut berduka, baik para pendahulu yang sudah berkebaktian sejak di Jl. Ir. H. Djuanda 93, juga semua yang pernah mengalami layanan Pak Pendeta. Kiranya Tuhan menghibur dan menguatkan serta memulihkan mereka. Secara kelembagaan, moment ini kiranya menginspirasi GKI Maulana Yusuf untuk menghargai sejarah secara wajar, serta terus melayani dengan arah yang benar, dengan pertolongan Allah yang akbar.

Kelima, saya menutup doa dengan meminta kepada Tuhan bagi tiap orang yang mengikuti Kebaktian Pelepasan. Memohon agar hadirin bisa menjaga iman supaya tak putus di tengah jalan. Jika hari ini menyaksikan indahnya kehidupan hamba Tuhan yang setiawan, kiranya mereka terinspirasi untuk meneladan. Dengan begitu, siapapun bisa mengikut Tuhan dengan setia, sampai akhir kehidupan.
*
BEGITULAH serpihan ingatan saya tentang Boksu Tjioe Tjin Tjuan, selama mengenal dia sekira 40 tahun lamanya. Meski masih banyak hal sudah terlupa, tapi saya percaya, penulis lain pasti melengkapinya, dari sisi pandang berbeda. Saudara-saudara yang membaca kiranya bisa memetik makna, atau setidaknya bisa mengenang sosok seorang pendeta serba bisa yang pernah hadir dalam hidup kita.

Soli Deo Gloria.

Bandung, 9 Mei 2022

Pdt. U T Saputra

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai